Sabtu, 17 Desember 2011
SIAPA HENDAK IKUT !!!
Pernahkah kita memperhatikan dalam suatu rumpun bambu. Tumbuh yang namanya rebung, enak buat makanan oleh masyarakat. Muncul juga bambu setelah rebung menjadi dewasa yang enak buat dinding rumah.
Kita dapat melihat perubahan nilai antara rebung dan bambu.
Bagitu juga titik-titik perubahan estetika ranah seni rupa menghancurkan nilai lama dan memunculkan nilai baru (subversif)
Senin, 05 Desember 2011
PERGUMULAN “ULAR BERBISA”
oleh : Anton Rais Makoginta
Kouta! Kuota! Kouta! Begitulah judul email yang mampir di kotak masuk, ada sebuah ketertarikan aku untuk membuka - untuk menghadiri perhelatan tersebut berhubung tercantum nama-nama: Baihaqi Hasan, Eddi Prabandono, Faisal Habibi, Kanwa Adikusumah, Narpati Awangga, S Teddy Darmawan, Titarubi, Wiyoga Muhardanto.
Setelah melewati mbak-mbak yang telah berbaik hati untuk meminjamkan sebuah pena guna mengisi buku tamu yang berkop
Minggu, 04 Desember 2011
Gemuk yang Tidak Membuang Lemak
oleh : Anton Rais Makoginta
;dfkjhsgbfashdfkjABdfbhisasdfghkugsjkrtfi ;rhio;hkjbfafadfgFBNFAUIHJXFHNAhfnkasjfn
;/afkjdfkajsd
;aknkjhdihihajshdammghrf8quefanxciayerqfasfkdljtw984,mdfnksz
Saya telah mencoba untuk memahami susunan huruf yang hanya beberapa baris di atas, namun tidak mampu mengetahui perseluk-belukan serta peralaman [logika] nya, dan yakin anda juga akan meresakan apa yang saya alami ketika mencoba untuk menikmati aksara tersebut.
Sabtu, 23 April 2011
Keseimbangan
oleh : Anton Rais Makoginta
“Seimbang” secara leksikal berarti...
Maaf, tidak perlu saya lanjutkan, karena kalimat ini sering kita gunakan dengan pemahaman kita masing-masing dalam kehidupan sehari-hari. Dan tulisan ini tidak berniat meneruskan kebiasaan seorang mahasiswa seni rupa yang akan melakukan ujian skripsi: sibuk mengumpulkan rujukan dari pelosok-pelosok pustaka, dari kamus istilah, sehingga tampak keren, akademis tapi pada akhirnya cuma membuat saya memahami utara, sementara seniman yang berpameran memahami selatan.
“Seimbang” secara leksikal berarti...
Maaf, tidak perlu saya lanjutkan, karena kalimat ini sering kita gunakan dengan pemahaman kita masing-masing dalam kehidupan sehari-hari. Dan tulisan ini tidak berniat meneruskan kebiasaan seorang mahasiswa seni rupa yang akan melakukan ujian skripsi: sibuk mengumpulkan rujukan dari pelosok-pelosok pustaka, dari kamus istilah, sehingga tampak keren, akademis tapi pada akhirnya cuma membuat saya memahami utara, sementara seniman yang berpameran memahami selatan.
Langganan:
Komentar (Atom)